Telur Mleduk

Kemarin malam, aku pulang jam 10 malam. Kulihat Kai sudah tidur di tempat tidurnya. Lalu aku pergi ke dapur ingin memanaskan lauk untukku. Biasanya sih aku tidak makan malam lagi, tapi kemarin itu lapar sekali. Nah, waktu aku buka microwave, aku kaget melihat ini:

img_8601_zpszj3vmtk6

ada piring dengan “sisa-sisa” telur di dalam microwave.

Lalu aku tanya pada Riku yang kebetulan sedang berada di ruang makan. Kata Riku:

“Iya itu si Kai. Dia bilang biarin di situ, mau kasih lihat mama. Jadi si Kai karena lapar, mau makan, dia pecahkan telur taruh di piring. Lalu masukkan microwave… eeeeh mleduk! Kaget dia…. Jadi waktu aku pulang, aku buatkan dia telur mata sapi pakai kompor”

Hahahaha… aku tertawa! Tapi sekaligus merasa terharu dan kasihan juga. Untung Kai sudah tidur, pasti dia tersinggung kalau dengar aku tertawa. Memang aku selalu mengingatkan dia untuk tidak pakai kompor, kalau mau apa-apa pakai microwave, asal tidak masukkan benda besi.

Tadi pagi aku peluk dia, dan bilang,
“Kai kemarin lapar ya? Terus buat telur dan meledak?”
“Iya…”
“Kai pasti kaget sekali… kasihan. ”
“Dulu aku pernah buat kok tidak apa-apa…”

Ya ampun, ternyata dia pernah kelaparan sebelumnya.

“Mungkin harus dikocok dulu dan tutup pakai plastik ya? Nanti kita coba deh”

Dan… tadi sore dia pulang sekolah, tak lama bilang lapar…. Dia minta ijin untuk masak dengan kompor. Dan aku ijinkan (selama aku ada di rumah boleh).

Jadilah dia membuat telur mata sapi untuk makan “sore” hehehe. Anakku yang bangsu ini memang sedang “kelaparan” terus.  ^o^

 

Bado

Bado adalah singkatan dari Badminton.

Memang Riku sejak masuk SMP, mengikuti kegiatan ekskul Badminton. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan dia memilih badminton, padahal sebelum masuk dia ingin ikut kegiatan Art saja. Katanya, “Aku ngga mau masuk Art, pesertanya banyak perempuan!”. Lalu dia ikut percobaan masuk tenis meja, dan… batal. Capek katanya😀

Lalu dia memilih Badminton, padahal banyak juga peserta perempuannya. “Tapi  kami ber 6 laki-lakinya. Tidak terlalu banyak juga laki-lakinya. Tidak seperti Base ball dan Sepak bola.

Jadilah dia mengikuti badminton. Dan hasilnya? Badannya menjadi langsing dan tinggi, jauh berbeda dengan badannya waktu lulus SD, dan hanya dalam 10 bulan! Memang sih latihannya berat. Setiap Selasa, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu. Khusus untuk hari Minggu aku minta ijin bolos untuk ke gereja, kecuali kalau menjelang pertandingan.

Melihat kakaknya rajin bermain, dan rajin membeli peralatan badminton seperti sepatu dan raket, Kai jadi ingin ikut bermain. Kemudian ada kesempatan “percobaan” masuk klub badminton di SDnya. Kami antar dan melihat dia berlatih tidak tanggung-tanggung 4 jam! Dari jam 9 pagi sampai 1 siang. Dan dipuji pelatihnya bahwa Kai bisa konsentrasi, karena biasanya anak usia kelas 2 SD masih suka bermain-main dan tidak bisa tenang mengikuti penjelasan pelatih. Dan aku melihat dia memang ada bakat juga. Tapi sayangnya klub itu berlatih setiap hari Minggu, pas persis jam Sekolah Minggu. Kupikir nanti setelah Mei saja. Tapi…. dia tidak mau! Duh

Untuk memberikan dia semangat supaya mau berolahraga, akhirnya kami membelikan Kai juga raket yang layak. Maksudnya paling sedikit dia punya raket pribadi kalau dia mau berlatih dengan kakaknya. Nah, kebetulan pastor kami di Kichijouji mengajak Riku bermain badminton dengan kakak-kakak di Sekolah Minggu hari Kamis lalu. Yang aku heran, Riku suka mengajak adiknya untuk ikut pergi bersama. Kupikir mestinya dia malas mengajak adik yang belum bisa kan? Tapi tidak!

Bahkan dia ikut menyiapkan apa saja yang harus dipersiapkan untuk bermain badminton di gym, seperti harus membawa sepatu olahraga dalam ruangan. Jadilah kami membeli sepatu khusus untuk Kai. Pada hari H, Kai juga sangat antusias dan menyiapkan semua bawaannya sendiri, termasuk botol air minumnya.

Begitu Riku pulang dari sekolah (dan latihan ekskul tentunya) pukul 6:30, dia makan dan kami bergegas keluar rumah. Ternyata dari rumah kami ke gelanggang olah raga Musashino cukup dekat, bahkan lebih dekat daripada ke gereja. Gelanggang yang besar dan bersih, mewah untuk ukuranku. Karena kami tidak tinggal di daerah Musashino, kami perlu membayar tiket yang lebih mahal daripada penduduk Musashino. Tapi karena Riku dan Kai masih SD dan SMP, hanya membayar 100 yen saja! Murah!

bado_zpscyrlkk5z1

Dan… aku tadinya takut kalau Kai hanya menjadi penghalang mereka bermain. Tapi tidak, ternyata Kai cukup mampu mengembalikan kok meskipun tidak selalu bisa. Mukanya juga serius dalam bermain. Waktu satu jam dia pakai untuk bermain terus tanpa istirahat. Ada satu perkataan Riku kepada Kai yang membuatku terharu, “Kamu bagus bermain. Dan kamu masih kelas 2 SD. Berlatih terus, dan waktu masuk SMP kamu bisa menjadi kartu AS di ekskul SMP. Biarlah kakak kamu tidak pandai, karena kakakmu baru mulai di SMP. Tapi kamu harus berusaha jadi yang nomor satu kelak. Masih ada 4 tahun!”

badminton_zpsbnqzlkw2

… Ah hati Riku yang lapang dan tanpa iri mendukung adiknya untuk menjadi yang terbaik. Senangnya aku sebagai orang tua. Semoga saja Kai mau serius berlatih. Kalau perlu aku akan antar jemput deh.

Rasa Tanggung Jawab

Rasa tanggung jawab merupakan terjemahan dari Sekininkan 責任感. Kemarin dulu aku sempat marah pada Kai dan mengatakan “Kamu tidak ada rasa tanggung jawab! 君は責任感がない” Dan dia sedih…. Aku pun sedih karena telah menyakiti hatinya. Tapi kupikir dia perlu tahu bahwa menjalankan tugas itu merupakan perwujudan rasa tanggung jawab itu.

Jadi ceritanya dia harus mengulang pelajaran Kanji, dengan menulis satu-satu kanji yang telah dipelajari di kelas 2 sejak awal. Ada sekitar 80 kanji. Tapi dia menuliskan dengan ogah-ogahan dan akhirnya oleh gurunya disuruh ulang menulis lagi. Karena aku mulai bekerja dia tidak mengerjakan tugas mengulang (karena tidak tertulis sebagai PR, kalau PR memang dia kerjakan. Dan kebetulan aku baca di buku penghubung bahwa gurunya minta dia menuliskan lagi, dicicil sampai akhir minggu ini. Nah, itu dia tidak kerjakan! Dia tidak merasa itu sebagai tugas, dan tidak mau menyisihkan waktu bermainnya untuk membut tugas itu. Itu yang membuatku marah.

Di satu pihak, waktu aku pergi (belum kembali) kerja, dia sempat menelepon aku dan minta ijin untuk bermain dengan temannya, yang menjemput sampai depan pintu rumah untuk bersama-sama ke taman. “Mama, temanku jemput. Aku ingin main …. boleh? ” Dan aku bolehkan. Jadi kupikir dia akan bermain sampai waktu bel berbunyi jam 5-an. Ternyata dia sudah kembali ke rumah pukul 4 dan meneleponku untuk memberitahu dia sudah di rumah, dan bertanya kapan aku pulang.

Malam harinya sebelum tidur aku tanya, “Kenapa kamu pergi  bermain cepat? Kan bisa bermain lebih lama”
“Aku kan takut kakak pulang dan tidak bawa kunci. Kan mama bilang untuk bukakan pintu kalau Kakak pulang!”
Oh… aku terharu, dan aku puji dia bahwa dia punya rasa tanggung jawab. Karena sudah ditugaskan untuk membuka pintu, dia rela mengorbankan waktu bermainnya.

Di satu pihak, kakaknya amat sangat bertanggung jawab. Dia selalu berusaha mengerjakan tugas yang diberikan dengan sempurna, meskipun kadang dia tidak mau bekerja dobel. Jadi dia harus membuat beberapa laporan untuk tugas liburan musim panas. Dan dia kemarin siang pulang ke rumah bergegas membetulkan laporan yang ternyata harus ditulis dengan bolpen. Maklum selama ini di SD semua pekerjaan pakai pensil. Jadi cepat-cepat dia mengganti tulisan dengan bolpen dan kembali ke sekolah untuk menyerahkan pada gurunya. Bayangkan dia harus berjalan kaki lagi 25 menit (one way) ke sekolah. Kebetulan ada temannya juga yang menulis dengan pensil, sehingga dia janjian untuk pergi bersama.

Adik melihat kakaknya. Semoga Kai bisa belajar lagi untuk mempunyai rasa tanggung jawab terhadap pelajaran di sekolahnya.

Kai (kiri) dan Riku (kanan) sedang menyelesaikan tanggung jawabnya🙂

Potong Ikan Inada

Aku suka beli ikan di Jepang, karena selalu segar dan bersih. Kami bisa memilih ikan yang mau dibeli lalu dibersihkan oleh petugas, sampai ditanya mau dipotong bagaimana. Mau untuk sashimi? berarti dikuliti dan diambil tulang (dan kepala)nya. Atau hanya mau diambil isi perutnya saja dan dibuang kepalanya. Tapi aku biasanya tidak mau diapa-apain. Beli utuh. Meskipun si penjual sering heran… karena jarang orang Jepang mau sabaku さばく menyiangi/memotong ikan sendiri.

Riku mencoba memotong ikan sendiri waktu dia kelas 5 karena akan memotong ikan waktu pergi menginap bersama teman-temannya. Tapi Kai, sekarang kelas 2, sudah mau mencoba potong ikan sendiri. Sehingga aku menyuruh dia memilih sendiri jenis ikan yang dia mau potong. Dia pilih Inada, semacam ikan ekor kuning.

besar kan ikannya?😀

Tapi ikan itu besar, meskipun harganya cukup murah. Dan kami sekeluarga suka rasanya. Tentu karena ukurannya besar, sebetulnya sulit untuk memotongnya. Tapi Kai cukup senang bisa mencoba meskipun hasilnya miring-miring😀

memang butuh tenaga ekstra untuk menahan dan memotong ikan yang besar

Dan malam itu kami puas makan satu ekor Inada bakar untuk makan malam kami. Tentu saja makan dengan dabu-dabu.

Hubungan Kai dan Nemo

Hari Sabtu nanti, Riku dan Kai harus “mentas” dalam acara Gakugeikai 学芸会 di sekolahnya. Riku karena sudah biasa tidak grogi sama sekali, tapi Kai baru pertama kali tampil dalam sebuah drama, di depan orang tua murid. Padahal sih waktu di TK mereka juga sering “manggung”, tapi mungkin karena dia sudah merasa sebagai “anak SD = anak gede”, dia amat sangat khawatir, jika gagal, jika tidak bisa tampil bagus.

Setiap hari sebelum pergi sekolah, atau malam sebelum tidur, dia selalu berkata, “Aduh … bagaimana ya? Aku bisa ngga ya?”
Dan setiap kali aku meyakinkan dia, “Kai pasti bisa! Kai itu pintar, dan BISA apa saja!”
Aku tahu untuk meredakan kekhawatirannya, aku perlu menunjukkan pada dia, kalaupun dia tidak bisa bermain drama, dia bisa kegiatan yang lainnya.

“Gambarmu kan terpilih sebagai wakil sekolah dalam pameran Pemadam Kebakaran waktu itu. Itu kan bagus, dan Kai BISA!”
“Iya ma, tapi itu kan ada contohnya. Aku meniru contoh (Model)”
“Nah, kalau begitu, Kai kan bisa ambil contoh yang lain, lalu gambar! Coba deh….”

Lalu dia mengambil dua bonekanya. Yang satu boneka singa, dan yang satunya Nemo. Singa memang susah, tapi Nemo… dia bisa mengambil point-point penekanan, dan selain itu dia menggambarnya dari depan! Kalau aku mungkin akan menggambar dari samping, bentuk ikannya lebih nyata dan mudah dicontoh.

Nemo and Kai’s

“Nah Kai…. ini bagus!”
“Tapi apa orang-orang ngerti itu gambar apa? Jelek ah menurutku”
“Ini NEMO, mama aja tahu…..”
“Tapi mama ka lihat bonekanya….” Dia tetap tidak percaya diri😦

Jadi waktu kakaknya pulang, aku tanya, “Ini gambar apa?”
Kakaknya menjawab, “NEMO”
“Naaaaah, kan Kai… kakak juga bilang Nemo!”
Dan waktu papanya pulang, kutanya lagi… “Ini gambar apa?”
Waktu papanya bilang Nemo, baru dia mulai tersenyum dan mulai percaya diri…..

Kemarin malam, aku melihat dia bermain dengan figurin Heroes yang dia punya. Ramai sendirian, seperti memainkan wayang. Lalu aku menantang dia, “Kai… kai sebetulnya bisa mencoba menulis cerita loh….”
“Manga? Aku tidak bisa gambar😦 ”
“Bukan Mangga. Cerita… seperti novel. Nanti orang baca. Seperti mama kan suka menulis, lalu dibaca orang. Huruf saja. Kalau mama ada fotonya.”
“Ohhhh… itu aku bisa.”

SALAHNYA, aku katakan itu pada jam 10 malam. Langsung dia keluar kamar dan mau ambil kertasnya.
Ya sudah kupikir tidak apalah. Daripada dia penasaran. Dan dia mulai menulis. Sambil bertanya, huruf ini bagaimana tulisnya. KICK bagaimana tulisnya? “KI K KU dayo…pakai katakana”
Dan hampir seperempat jam dia berkutat dengan huruf-huruf di atas kertas. Lalu dia bacakan. Cerita tentang “Latihan berkelahi!” …huh… laki-laki sekali ya😀

cerita Kai

Tapi yang penting, mulai malam itu, dia punya kebiasaan untuk menulis, menyambungkan ceritanya supaya bisa dibaca olehku dan oleh papanya. Semoga kebiasaan ini berlanjut terus. Dan yang penting dia mulai yakin pada dirinya sendiri, bahwa dia BISA.🙂🙂🙂

Good luck boy!

Line antara Ibu dan Anak

Pagi ini di televisi Nihon, acara kesukaan kami ZIP menampilkan “lucu”nya hubungan ibu dan anak melalui message yang dikirimkan lewat LINE atau email. Biasanya memang anaknya sudah lumayan besar (SMP ke atas) dan ibunya masih muda berusia 40-an (konon sekitar 40% dari ibu usia 40-an ini sudah memakai LINE). Topik ini diangkat karena dalam musim gugur, semakin dingin, cinta ibu semakin “panas” .

Aku jadi ingat kirim-mengirim email lewat inbox FB dengan anak sulungku yang telah kutulis di sini. Memang aneh rasanya berhubungan lewat tulisan dengan lewat lisan (telepon). Dalam acara TV itu juga ditampilkan “kesalahan” ibu-ibu dalam menulis message. Ada ibu yang mau “gaul” sehingga selalu pakai gambar ikon di akhir kalimat. Atau sering salah menulis kanji atau kalimat. atau mengajukan banyak pertanyaan dalam satu pengiriman sehingga anaknya jadi bingung harus membalas yang mana duluan😀 Atau ibunya ingin memberitahukan semua kegiatannya (laporan) pada anaknya, sehingga mengirim foto-fotonya dengan teman-temannya. LUCU! Tapi ini semua merupakan usaha seorang ibu untuk mempertahankan KOMUNIKASI dengan anaknya. Aku ikut tersenyum dan tertawa, tapi aku tahu 10 tahun lagi, 20 tahun lagi aku juga akan begitu!

Kemarin aku mengirimkan paket kepada seorang sahabat di Osaka. Melati-san yang bertubi-tubi dirudung kemalangan. Dia sangat cinta Indonesia, tapi karena kondisi ekonominya sekarang, dia tidak bisa pergi ke Indonesia. Bahkan untuk ke  Tokyo mengunjungiku saya juga tidak bisa😦 Soal uang dan soal waktu. Jadi kemarin aku memasukkan indomie, abon, arum manis, bumbu gado-gado, bumbu instant, sambal, scarf, minyak telon dan lisptick, krupuk. snack, coklat….apa saja yang kupunya kubagi sedikit-sedikit padanya. Suamiku selalu memarahi kalau mengirim sesuatu ke orang tidak dalam keadaan BARU. Tapi Melati-san sudah kuanggap adik sendiri, dia selalu datang ke rumahku kapan saja. Tahu bahwa rumah berantakan dan tidak segan ikut membantu membersihkan rumah. Katanya dulu, “Tidak apa mbak… saya makan gratis makanan Indonesia yang tidak bisa kubeli. Sebagai gantinya aku bantu bersih-bersih!”. Dia suka sekali pedas dan manis. Ah… aku kangen dia.

IMG_6461

Kiriman untuk Melati san di Osaka

Jadi ada sedikit abon dalam plastik, ada sedikit keringan tempe dalam plastik. Aku menyadari sambil membuat paket kiriman itu, INI ADALAH HATI SEORANG IBU. Ingin membagikan APA yang enak, yang dia makan bersama anaknya! Aku ingat bulan Januari 2002, Satu setengah bulan sebelum Mama meninggal, dia juga mengepak barang-barang untukku. Satu koper! yang dia titipkan lewat adikku yang pulang waktu Natal. Mama selalu rapih dalam membungkus barang-barang…dan aku menghayatinya sebagai WUJUD CINTA pada anaknya!

Melati-san, kamu seperti anakku. Nikmatilah sedikit dari rumahku dan banyak dari HATIKU dan CINTAKU. Waktu kamu tidak balas messageku di LINE dalam 5 jam saja, aku sudah kelabakan. Aku takut! Takut kalau kamu “menghilang” tiba-tiba seperti suamimu😦 Jangan ya. Beri sedikit kata padaku, supaya aku tetap bisa mengetahui, bahwa kamu sehat-sehat saja.

Anak-anakku, jika kalian bisa membaca tulisan ini kelak…. semoga kalian bisa memahami juga bahwa hati seorang ibu tidaklah rumit! Bahkan CUKUP satu huruf atau ikon di LINE, demi menjaga HATI dan CINTA seorang ibu. Dan itu bukan hanya di musim gugur saja. Sepanjang musim, sepanjang masa.

NB: Melati san adalah anak permandianku❤

Mengikuti Lomba

Hari ini 30 September 2014, hari terakhir pendaftaran lomba untuk murid SD/SMP mengenai kastil. Kemarin papa Gen membawa tulisan Riku ke kantor pos.

Riku memang belum pernah ikut lomba. Kami memang seperti agak memaksakan Riku untuk mengikuti lomba ini. Papanya ingin supaya Riku belajar menulis dan mengungkapkan pikiran dan kalau bisa menang tentu akan memacu dia untuk lebih berusaha lagi.

Sebetulnya bisa saja Riku mengirimkan karangannya yang dikumpulkan di sekolah sebagai tugas Jiyu Kenkyu, tapi gurunya ingin memamerkan di kelas sampai tgl 30 Sept. Untung sebelum dikumpulkan di sekolah kami sudah mengambil foto, sehingga Riku tinggal menulis kembali, juga aku tinggal mencetak foto-foto kembali. Tapi Riku memang (malas) mendokusagariya 面倒くさがり屋, malas untuk menulis kembali. Aku sering kewalahan membuat dia mau mengulang (juga untuk belajar). Dia selalu tunggu sampai saat terakhir, dan akhirnya Minggu malam sesudah makan malam, dia mulai menulis kembali. Kami bertiga di meja makan, Gen mengecek tulisannya, aku mencetak foto. Sampai pukul 12 malam. Tentu saja dia mengeluh terus: “Ngantuuuk!”.

sambil males-malesan😀

Malas, sifat yang masih harus dihilangkan dari Riku. Berlainan dengan Kai, dia melihat kakaknya sibuk begitu, dia jadinya juga ingin menulis, menggunting dan menempel. Aku berikan semua foto yang tidak terpakai, dan buku, untuk Kai sehingga bisa meniru Riku. Moga-moga kebiasaan Kai untuk belajar bisa terus dipelihara..

Yang penting bukan hasilnya, tapi prosesnya🙂

ikut-ikutan

Gairah Membaca

Aku (dulu) suka membaca! Suamiku juga suka membaca (sampai sekarang). Tapi akhir-akhir ini aku merasa kehilangan semangat untuk membaca buku. Karena aku terlalu banyak memakai komputer, berhubungan dengan artikel-artikel yang harus kubaca lewat internet, sehingga aku sudah tidak mempunyai gairah untuk membaca buku lagi. Dulu aku juga masih suka membaca novel bahasa Inggris dalam kereta menuju universitas. Tapi sekarang? Aku lebih banyak bermain game dengan gadgetku, atau membalas email dan menulis/membaca di socmed.

Tadi pagi, Riku bangun jam 5:30 pagi! langsung dia ganti baju dan pamit padaku untuk pergi ke konbini. Memang dia sudah bilang semalam bahwa dia mau membeli  buku komik Rurouni Kenshin karena akan terbit besok dan itu merupakan seri terakhir. Aku ijinkan, dan dia langsung pergi, kembali dan membaca. Tak sampai 30 menit semua selesai, dan dia bilang, “Aaaaahhh ceritanya selesai deh. Aku tidak punya lagi sesuatu yang kutunggu-tunggu setiap minggu!”

langsung baca buku yang baru dia beli!

Wakaru! Aku sangat mengerti perasaan itu. Gairah untuk membaca yang menggebu-gebu, apalagi kalau merupakan cerita yang bersambung. Kalaupun hanya satu buku, gairah itu terus berlanjut sampai satu buku itu selesai. Passion to read!

Aku ingat dulu aku gandrung membaca novel bahasa Inggris yang ada di perpustakaan sekolah. Waktu itu aku baru bisa bahasa Inggris, dan mencoba membaca novel romance. Awalnya perlu waktu setengah hari untuk menyelesaikan satu buku. Lambat laun bisa hanya 3-4 jam saja. Dan aku ingat, aku pura-pura tidur, setelah semua tertidur, aku ambil bukuku dan baca di kamar mandi sampai selesai! Kemudian buku itu aku kembalikan besoknya, dan ganti dengan buku pinjaman yang baru. Gairah membaca yang menggebu-gebu seperti itu sekarang sudah tidak ada. Sedih…. tapi sekarang aku punya gairah yang lain! Yaitu gairah untuk menulis😀

Aku senang melihat anakku mempunyai kecintaan membaca buku dan semoga saja kecintaannya membaca bisa bertambah luas bidangnya. Kalau sekarang hanya buku-buku berlatar sejarah, semoga nanti bisa membaca bidang-bidang lainnya. Dan… suatu waktu dia juga bisa menemukan passion yang lain, menulis mungkin, atau meneliti. Apa saja, tapi passion, gairah itu perlu untuk hidup!

Hidup tanpa gairah, sama saja dengan zombie!

Grandfather’s Clock

Semalam aku menikmati waktu “bedtime story” bersama Kai. Waktu jam menunjukkan pukul 9 malam, kusuruh dia memilih picture book yang belum pernah dia baca, dan menemaninya membaca.

Sayangnya picture book yang dia pilih adalah Shakkuri gaikotsu しゃっくり骸骨 terjemahan dari “Skeleton Hiccups” karangan Margery Cuyler、 S.D. Schindler punyaku yang dibelikan Riku dan papanya. Buku mahal (1500 yen)  yang cukup dibaca satu kali hehehe, mending pinjam dari perpustakaan deh. 

Tapi bedanya kali ini Kai sudah bisa baca sendiri. Jadi aku cuma bantu kalau ada katakana yang dia belum mahir. Dan dia tertawa-tawa terus selama membaca.

Gara-gara tertawa, perlu waktu untuk menjadi ngantuk (salah pilih buku). Jadi aku matikan lampu, lalu memeluk dia dan tanya-tanya bagaimana di kelasnya. Lalu tiba-tiba dia tanya tentang Dengu netsu デング熱 Demam berdarah yang sekarang menjadi topik di Tokyo (karena tidak biasanya). Haduh… ya terpaksa jelaskan, padahal dia sebetulnya sudah mengerti. Dia mau kakunin (make sure) meyakinkan saja pemikirannya.

Lalu berbicara apa kok tiba-tiba bisa sampai pada lagu : My grandfathers clock. Dia mulai menyanyikan bahasa Jepangnya tapi tersendat karena lupa. Yaaaah aku ambil ipad dan mencari di youtube. Menyanyilah dia sambil membaca hiragananya. Aku dengar dia menyanyi dengan suara mantap, sambil berpikir…. dulu dia masih kecil cuma bisa melihat tayangan videonya. Sekarang sudah bisa baca, karaoke dan bernyanyi. Suaranya bagus (kedua anakku tidak 音痴 fals). Aku juga memperdengarkan versi asli pakai bahasa Inggris (yang dikomentari : tidak bagus, bagusan bahasa Jepang hahaha)

Ahhhh bahagianya menikmati saat itu, meskipun jam sudah bergeser mendekati pukul 11 malam!

Akhirnya kupakai jurus pamungkasku, matikan semua, dan balik badan pura-pura tidur. Dan tak lama dia pun tertidur.

Tapi: waktu kubalikkan badan, yang terlihat muka kakak Riku yang sudah lama terlelap. Dia sama denganku bisa cepat tertidur kalau sudah waktunya. Tapi berkat keteraturan itu dia tak perlu dibangunkan, pasti akan bangun sebelum jam 6 pagi. Anak sulung!

Kupenjamkan mata dan tak mau berpikir apa-apa lagi……ZzzzZZZzZzzz

PET & Souvenirs

Ada yang berubah dari Riku sejak dia pulang acara gasshuku dengan teman-temannya kemarin. Tadi siang, sesudah pulang sekolah, dia mendatangiku dan berkata ingin memelihara ikan di akuarium kecil.

“Ma, aku rasa aku mau pelihara ikan deh…. Sejak pergi kemarin, aku pikir, aku memang tidak punya sesuatu yang rutin. Aku ingin pelihara sendiri, dan secara rutin membersihkan dan memberi makan”

“Boleh saja. Kita kan dulu punya akurium juga. Tapi memang karena papa takut kalau gempa akan membanjiri apartemen di bawah kita, maka papa tidak lanjutkan pelihara. Jadi kalau kamu pelihara jangan isi air banyak-banyak saja. Mama tahu kamu mau anjing, tapi punya anjing di Jepang sangat mahal. Jadi untuk sementara mama tidak bisa pelihara anjing.”

Dan akhirnya dia membeli ikan hias dan heater penyeimbang udara untuk akurium kecilnya. Akuariumnya sendiri punyaku, sudah lama beli yang aku pakai buat macam-macam, bahkan pernah dipakai untuk memelihara larva kumbang dan tempat buah😀.

Semua dibeli dengan uangnya sendiri

Semua dibeli dengan uangnya sendiri

Dia pergi sendiri ke toko ikan hias dekat rumah untuk mendapatkan info apa saja yang diperlukan dari pegawainya. Selama ini memang yang membeli dan mengurus ikan hias kami itu Gen dan aku. Baru kali ini Riku sendiri yang ingin, dan bertindak sendiri. Bahkan dia beli semua dengan uangnya sendiri. Aku pikir ini keinginan yang harus di dukung, mumpung dia mau.

Setelah mengurus akuariumnya, dia pergi menonton Rurouni Kenshi : Feel the Future sendirian. Dan setelah itu dia membeli pernik-pernik Kenshin … pakai uangnya sendiri lagi sebesar 2000 yen. Mestinya dia akan ingat hari ini tgl 13 September karena hari ini dia mendapatkan kesenangan baru: memelihara ikan dan menonton tokoh kesayangannya.

Hasil menonton film Rurouni Kenshin: Feel the future

Hasil menonton film Rurouni Kenshin: Feel the future

Terasa anak-anak sudah semakin besar, dan mereka sedang belajar untuk mandiri.