Semalam aku menikmati waktu “bedtime story” bersama Kai. Waktu jam menunjukkan pukul 9 malam, kusuruh dia memilih picture book yang belum pernah dia baca, dan menemaninya membaca.

Sayangnya picture book yang dia pilih adalah Shakkuri gaikotsu しゃっくり骸骨 terjemahan dari “Skeleton Hiccups” karangan Margery Cuyler、 S.D. Schindler punyaku yang dibelikan Riku dan papanya. Buku mahal (1500 yen)  yang cukup dibaca satu kali hehehe, mending pinjam dari perpustakaan deh. 

Tapi bedanya kali ini Kai sudah bisa baca sendiri. Jadi aku cuma bantu kalau ada katakana yang dia belum mahir. Dan dia tertawa-tawa terus selama membaca.

Gara-gara tertawa, perlu waktu untuk menjadi ngantuk (salah pilih buku). Jadi aku matikan lampu, lalu memeluk dia dan tanya-tanya bagaimana di kelasnya. Lalu tiba-tiba dia tanya tentang Dengu netsu デング熱 Demam berdarah yang sekarang menjadi topik di Tokyo (karena tidak biasanya). Haduh… ya terpaksa jelaskan, padahal dia sebetulnya sudah mengerti. Dia mau kakunin (make sure) meyakinkan saja pemikirannya.

Lalu berbicara apa kok tiba-tiba bisa sampai pada lagu : My grandfathers clock. Dia mulai menyanyikan bahasa Jepangnya tapi tersendat karena lupa. Yaaaah aku ambil ipad dan mencari di youtube. Menyanyilah dia sambil membaca hiragananya. Aku dengar dia menyanyi dengan suara mantap, sambil berpikir…. dulu dia masih kecil cuma bisa melihat tayangan videonya. Sekarang sudah bisa baca, karaoke dan bernyanyi. Suaranya bagus (kedua anakku tidak 音痴 fals). Aku juga memperdengarkan versi asli pakai bahasa Inggris (yang dikomentari : tidak bagus, bagusan bahasa Jepang hahaha)

Ahhhh bahagianya menikmati saat itu, meskipun jam sudah bergeser mendekati pukul 11 malam!

Akhirnya kupakai jurus pamungkasku, matikan semua, dan balik badan pura-pura tidur. Dan tak lama dia pun tertidur.

Tapi: waktu kubalikkan badan, yang terlihat muka kakak Riku yang sudah lama terlelap. Dia sama denganku bisa cepat tertidur kalau sudah waktunya. Tapi berkat keteraturan itu dia tak perlu dibangunkan, pasti akan bangun sebelum jam 6 pagi. Anak sulung!

Kupenjamkan mata dan tak mau berpikir apa-apa lagi……ZzzzZZZzZzzz

About Imelda

Seorang tanpa suku bangsa yang tetap mencintai Indonesia meskipun tinggal di Tokyo. Dosen bahasa Indonesia, penerjemah, editor/proof reader, narator.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s