Hari Sabtu nanti, Riku dan Kai harus “mentas” dalam acara Gakugeikai 学芸会 di sekolahnya. Riku karena sudah biasa tidak grogi sama sekali, tapi Kai baru pertama kali tampil dalam sebuah drama, di depan orang tua murid. Padahal sih waktu di TK mereka juga sering “manggung”, tapi mungkin karena dia sudah merasa sebagai “anak SD = anak gede”, dia amat sangat khawatir, jika gagal, jika tidak bisa tampil bagus.

Setiap hari sebelum pergi sekolah, atau malam sebelum tidur, dia selalu berkata, “Aduh … bagaimana ya? Aku bisa ngga ya?”
Dan setiap kali aku meyakinkan dia, “Kai pasti bisa! Kai itu pintar, dan BISA apa saja!”
Aku tahu untuk meredakan kekhawatirannya, aku perlu menunjukkan pada dia, kalaupun dia tidak bisa bermain drama, dia bisa kegiatan yang lainnya.

“Gambarmu kan terpilih sebagai wakil sekolah dalam pameran Pemadam Kebakaran waktu itu. Itu kan bagus, dan Kai BISA!”
“Iya ma, tapi itu kan ada contohnya. Aku meniru contoh (Model)”
“Nah, kalau begitu, Kai kan bisa ambil contoh yang lain, lalu gambar! Coba deh….”

Lalu dia mengambil dua bonekanya. Yang satu boneka singa, dan yang satunya Nemo. Singa memang susah, tapi Nemo… dia bisa mengambil point-point penekanan, dan selain itu dia menggambarnya dari depan! Kalau aku mungkin akan menggambar dari samping, bentuk ikannya lebih nyata dan mudah dicontoh.

Nemo and Kai’s

“Nah Kai…. ini bagus!”
“Tapi apa orang-orang ngerti itu gambar apa? Jelek ah menurutku”
“Ini NEMO, mama aja tahu…..”
“Tapi mama ka lihat bonekanya….” Dia tetap tidak percaya diri😦

Jadi waktu kakaknya pulang, aku tanya, “Ini gambar apa?”
Kakaknya menjawab, “NEMO”
“Naaaaah, kan Kai… kakak juga bilang Nemo!”
Dan waktu papanya pulang, kutanya lagi… “Ini gambar apa?”
Waktu papanya bilang Nemo, baru dia mulai tersenyum dan mulai percaya diri…..

Kemarin malam, aku melihat dia bermain dengan figurin Heroes yang dia punya. Ramai sendirian, seperti memainkan wayang. Lalu aku menantang dia, “Kai… kai sebetulnya bisa mencoba menulis cerita loh….”
“Manga? Aku tidak bisa gambar😦 ”
“Bukan Mangga. Cerita… seperti novel. Nanti orang baca. Seperti mama kan suka menulis, lalu dibaca orang. Huruf saja. Kalau mama ada fotonya.”
“Ohhhh… itu aku bisa.”

SALAHNYA, aku katakan itu pada jam 10 malam. Langsung dia keluar kamar dan mau ambil kertasnya.
Ya sudah kupikir tidak apalah. Daripada dia penasaran. Dan dia mulai menulis. Sambil bertanya, huruf ini bagaimana tulisnya. KICK bagaimana tulisnya? “KI K KU dayo…pakai katakana”
Dan hampir seperempat jam dia berkutat dengan huruf-huruf di atas kertas. Lalu dia bacakan. Cerita tentang “Latihan berkelahi!” …huh… laki-laki sekali ya😀

cerita Kai

Tapi yang penting, mulai malam itu, dia punya kebiasaan untuk menulis, menyambungkan ceritanya supaya bisa dibaca olehku dan oleh papanya. Semoga kebiasaan ini berlanjut terus. Dan yang penting dia mulai yakin pada dirinya sendiri, bahwa dia BISA.🙂🙂🙂

Good luck boy!

About Imelda

Seorang tanpa suku bangsa yang tetap mencintai Indonesia meskipun tinggal di Tokyo. Dosen bahasa Indonesia, penerjemah, editor/proof reader, narator.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s